Sirosis hati merupakan tahap akhir dari proses fibrosis hati akibat penyakit hati kronis yang ditandai dengan pembentukan jaringan parut yang menyebabkan sel-sel hati kehilangan fungsi normalnya.
Pengobatan sirosis hati terbagi menjadi 4 tahap, yaitu:
- Mencegah kerusakan hati lebih lanjut
- Mengobati komplikasi sirosis hati
- Mencegah terjadinya kanker hati atau deteksi dini kanker hati
- Transplantasi hati
- Mencegah Kerusakan Hati Lebih Lanjut
Di bawah ini akan dibahas mengenai tahap pertama pengobatan sirosis hati, yaitu mencegah kerusakan hati lebih lanjut:
- Mengeluarkan Darah Penderita
Pada penderita sirosis yang mengalami hemokromatosis (suatu keadaan di mana terjadi peningkatan kadar zat besi di dalam tubuh) dokter mungkin akan mengeluarkan sejumlah darah pasien untuk menurunkan kadar zat besi di dalam tubuh dan mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut pada hati.
Pada penyakit Wilson, dapat digunakan obat-obatan untuk meningkatkan pengeluaran tembaga di dalam air kemih untuk menurunkan kadar tembaga di dalam tubuh dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada hati.
- Menekan Sistem Kekebalan Tubuh
Dokter juga mungkin akan memberikan obat-obatan yang berfungsi untuk menekan sistem kekebalan tubuh anda seperti prednison untuk mengurangi proses inflamasi di dalam hati pada penderita hepatitis autoimun.
- Pemberian Imunisasi
Dokter juga akan memberikan imunisasi hepatitis A dan B pada penderita sirosis hati untuk mencegah terjadinya infeksi hepatitis A atau B yang dapat menyebabkan penurunan fungsi hati lebih lanjut.Akan tetapi, saat ini belum ada vaksin yang tersedia untuk mencegah terjadinya hepatitis C.
- Diet Sehat dan Suplemen Multivitamin
Langkah pertama yang harus anda lakukan adalah dengan mengkonsumsi diet sehat dan seimbang serta mengkonsumsi suplemen multivitamin setiap harinya karena mungkin mengalami gangguan penyerapan vitamin larut lemak seperti vitamin D dan vitamin K.
- Jangan Mengkonsumsi Obat-obatan yang Merusak Hati (Termasuk Alkohol)
Jika anda telah mengalami sirosis hati, maka dokter anda akan menyarankan agar anda tidak lagi mengkonsumsi atau sebisa mungkin menghindari konsumsi berbagai jenis obat yang dapat menyebabkan kerusakan hati.
Seperti obat golongan non steroid anti inflamasi drugs (NSAID) sepreti ibuprofen. Penggunaan NSAID pada pengguna sirosis dapat menyebabkan semakin memburuknya fungsi ginjal dan hati.
Selain obat-obatan yang dimetabolisme di hati, semua penderita sirosis hati harus menghindari konsumsi alkohol.
Sebagian besar penderita sirosis hati akibat mengkonsumsi alkohol secara berlebihan akan mengalami perbaikan fungsi hati bila menghentikan konsumsi alkoholnya.
Bahkan penderita hepatitis B dan hepatitis C kronik dapat mengurangi kerusakan hati dan memperlambat terjadinya sirosis dengan menghentikan konsumsi alkohol.
- Atasi Hepatitis Agar Tidak Menjadi Kronik
Atasi infeksi virus hepatitis, terutama hepatitis B dan C dengan menggunakan obat antivirus untuk mencegah terjadinya hepatitis kronik.
Tidak semua penderita sirosis akibat infeksi hepatitis kronik memerlukan pengobatan obat antivirus karena beberapa pasien mungkin mengalami perburukan fungsi hati dan atau mengalami efek samping obat yang cukup berat.
- Pengobatan Komplikasi Sirosis Hati Lainnya
- Hipersplenisme
Hipersplenisme merupakan pembesaran limpa yang menyebabkan lebih banyak darah yang terfiltrasi di dalamnya dan menyebabkan terjadinya penurunan ringan sel-sel darah merah (anemia), sel darah putih (leukopenia), dan trombosit (trombositopenia); yang biasanya tidak membutuhkan pengobatan.
Akan tetapi, bila penderita mengalami anemia berat, maka dibutuhkan transfusi darah atau terapi eritropoetin, yaitu suatu hormon yang berfungsi untuk menstimulasi pembentukan sel-sel darah merah.
Bila kekurangan trombosit menyebabkan terjadinya perdarahan dalam jumlah yang cukup signifikan, maka dapat dilakukan transfusi trombosit.
Tindakan pembedahan untuk mengangkat limpa yang membesar harus dihindari sebisa mungkin karena dapat terjadi perdarahan hebat selama tindakan dan gangguan hati lebih lanjut akibat penggunaan obat anestesi (obat bius).
- Peritonitis Bakterial Spontan
Penderita yang dicurigai mengalami peritonitis bakterial spontan biasanya harus melalui prosedur paracentesis untuk mengeluarkan cairan di dalam perut.
Cairan ini kemudian akan diperiksa untuk memastikan adanya tidaknya sel darah putih dan bakteri di dalamnya.
Selain itu, penderita juga harus melakukan pemeriksaan darah dan air kemih karena biasnaya juga terjadi infeksi pada darah dan air kemihnya.
Bila terdapat bakteri dan terjadi peningkatan kadar sel darah putih (neutrophil > 250/ml), maka penderita akan diberikan antibiotika intravena.
Peritonitis bakterial spontan merupakan suatu infeksi berat yang seringkali terjadi pada penderita sirosis hati tahap lanjut karena lemahnya sistem kekebalan tubuh.
Beberapa pasien yang beresiko tinggi menderita peritonitis bakterial spontan dan memerlukan terapi pencegahan dengan antibiotika oral adalah penderita yang dirawat di rumah sakit akibat pecahnya varises esophagus.
Kemudian penderita yang pernah menderita peritonitis bakterial spontan sebelumnya, dan penderita yang memiliki kadar protein yang rendah pada cairan perut.
- Ensefalopati Hepatikum
Beberapa gejala telah terjadinya ensefalopati hepatikum adalah siklus tidur dan bangun yang abnormal, gangguan proses berpikir, atau perilaku aneh biasanya diobati dengan pemberian diet rendah protein dan pemberian laktulosa oral (melalui mulut).
Protein dibatasi sebab protein merupakan sumber zat beracun yang menyebabkan terjadinya ensefalopati hepatikum.
Laktulosa merupakan suatu cairan yang berfungsi untuk memerangkap zat racun di dalam usus besar sehingga tidak terserap ke dalam aliran darah yang dapat menyebabkan terjadinya ensefalopati.
Penderita juga biasanya diberikan antibiotika (rifaximin), yang tidak diserap oleh tubuh tetapi tetap berada di dalam usus untuk mengurangi jumlah bakteri penghasil zat racun di dalam usus besar.
- Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Hati
Beberapa jenis penyakit hati seperti hepatitis B dan C dapat menyebabkan terjadinya sirosis hati, yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker hati.
Oleh karena itu, dianjurkan agar penderita sirosis hati melakukan pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi kanker hati sedini mungkin sehingga dapat dilakukan tindakan pembedahan atau transplantasi hati secepatnya.
Penderita sirosis hati, hepatitis B, dan hepatitis C dianjurkan agar melakukan pemeriksaan keadaan hati setiap 6 bulan sekali atau setidaknya 1 tahun sekali melalui pemeriksaan USG abdomen (perut) dan pemeriksaan darah (alfa fetoprotein).
- Transplantasi Hati
Sirosis hati merupakan suatu keadaan yang tidak dapat disembuhkan. Fungsi hati penderita sirosis akan terus menurun secara perlahan walaupun penderita telah melakukan pengobatan sirosis hati. Berbagai komplikasi sirosis hati juga dapat terjadi, yang membuat pengobatan semakin sulit.
Oleh karena itu, bila sirosis hati telah mencapai tahap lanjut, maka transplantasi hati merupakan pilihan pengobatan yang banyak dianjurkan oleh para ahli.
Akan tetapi, bukan berarti semua penderita sirosis hati harus melakukan transplantasi hati. Selain itu, jumlah hati yang dapat ditransplantasi pun terbatas, oleh karena itu pengobatan dan pencegahan terjadinya komplikasi sirosis hati pun menjadi sangat penting.



