Apa Itu Penyakit Hepatitis B Carrier?

Hepatitis (radang pada hati) B adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB), yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati.

Virus hepatitis B menular melalui darah dan cairan tubuh yang terinfeksi, hal ini dapat terjadi pada keadaan:

- Jarum yang terkontaminasi yang digunakan untuk membuat tatto, akupuntur, body piercing.

- Pada saat kehamilan, penularan dari ibu-janin pada proses melahirkan.

- Tranfusi darah.

- Penggunaan pisau cukur bersama.

- Kontak langsung darah dengan darah.

- Hubungan seksual yang tidak aman.

- Penggunaan jarum suntik tidak steril.

- Tertusuk jarum suntik yang terinfeksi.

Kebanyakan hepatitis B carriers tidak merasa ataupun terlihat sakit, tetapi mereka dapat mentransmisikan virus tersebut dan membuat orang lain menderita hepatitis B.

Bagaimanapun, carriers memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita kerusakan hati yang progresif akibat reaktivasi spontan hepatitis B berulang, sehingga memerlukan pengawasan dokter secara rutin.

5-10% dewasa yang terinfeksi hepatitis B akan ‘membawa’ atau menyimpan virus tersebut selama hidupnya, yang kemudian disebut hepatitis B carriers. Hepatitis B memiliki 4 fase untuk menjadi Hepatitis B kronik yaitu:

- Fase toleransi imunitas (immune tolerance phase).

- Fase pembersihan imunitas (immune clearance phase).

- Fase kontrol imunitas (immune control phase).

- Fase penurunan imunitas (immune escape phase).

Selama fase satu dan tiga, umumnya pasien tidak memiliki keluhan dan disebut dengan ‘inactive carriers’.

Bagaimanapun juga, orang tersebut umumnya tidak dapat bertahan selamanya di dalam fase ini, mereka akan berpindah fase dan selalu memiliki risiko untuk terjadinya kerusakan hati progresif dan pembentukan sirosis hati (pengecilan hati).

Pasien pada fase 1 dan 3 umumnya tidak diberikan terapi karena berdasarkan penelitian, pemberian antivirus tidak ada bedanya dengan plasebo.

Pasien dengan fase 2 dan 4 akan diberikan terapi antivirus. Yang diperlukan pada pasien carrier tanpa gejala adalah follow-up atau kunjungan ke dokter secara reguler untuk memastikan fase yang terjadi dan perlu tidaknya terapi. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

  1. Menjaga kesehatan carriers

- Tidak mengonsumsi alkohol karena dapat merusak hati.

- Mengunjungi dokter teratur (minimal 1x/tahun). Diskusikan mengenai tes darah dan pemeriksaan USG berkala dan penggunaan obat interferon alfa-2b.

- Vaksinasi hepatitis A.

- Diskusikan dengan dokter mengenai obat-obatan yang dijual bebas, bahkan obat herbal, karena beberapa dapat merusak hati.

- Tidak menggunakan obat-obatan terlarang (suntik), karena memiliki risiko terkena hepatitis yang lain.

  1. Menjaga diri carriers dari menginfeksi orang lain

- Menggunakan kondom lateks setiap berhubungan seksual.

- Tidak pernah membagi jarum suntik, tindikan, dsb.

- Tidak mendonorkan darah, plasma, organ tubuh, jaringan atau sperma.

- Orang-orang yang berisiko terinfeksi hepatitis B adalah mereka yang memiliki kontak dekat (dengan darah, semen, atau cairan tubuh lain) dengan carriers.

Sebagai contoh: pasangan seksual, orang yang tinggal serumah, anak yang lahir dari carriers. Beritahu mereka mengenai kondisi carriers, bahwa tidak masalah untuk berbagi makanan bersama.

- Carrier yang sedang hamil agar memberitahu dokter mengenai kondisinya, agar bayinya diberi suntikan yang menjaganya dari hepatitis B (12 jam pertama kelahiran).

  1. Untuk mereka yang memiliki kontak dekat dengan carriers

- Tutup semua luka dengan bandage.

- Cuci tangan, terutama setelah menyentuh darah.

- Bersihkan cipratan darah dengan campuran pemutih dan air (1,5 cangkir pemutih dalam satu galon air) untuk mematikan virus hepatits B.

- Memeriksakan diri ke dokter untuk tes hepatitis B.

- Vaksinasi hepatitis B.

- Tidak berbagi rokok, sikat gigi, gunting, pisau cukur, dsb.

Namun, Anda tidak perlu khawatir, seseorang yang terinfeksi virus hepatitis B akut akan menghilangkan virus ini dengan sendirinya dalam waktu 6 bulan dan akan meningkatkan daya tahan tubuhnya sendiri untuk melawan virus ini pada orang dewasa.

Setelah mereka sembuh, mereka tidak dapat terinfeksi oleh virus hepatitis B lagi dan tidak dapat menularkannya ke orang lain (sudah memiliki kekebalan terhadap hepatitis B). Namun, tetap berisiko terkena hepatitis jenis lain.

Post Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *