Hepatitis berarti peradangan pada organ hati. Hepatitis B adalah suatu penyakit organ hati yang menular yang diakibatkan oleh infeksi virus Hepatitis B.
Ketika seseorang terinfeksi, virus Hepatitis B bisa menetap di dalam tubuh orang tersebut selama seumur hidupnya, dan berpotensi menimbulkan masalah-masalah terkait organ hati di kemudian hari.
Ibu hamil sebaiknya memberikan perhatian lebih terhadap infeksi Hepatitis B, di mana sebaiknya Ibu hamil memeriksakan diri apakah dia terkena Hepatitis B atau tidak, sehingga bisa mendapatkan perawatan medis.
Juga mungkin bagi ibu hamil untuk menularkan virus kepada bayinya pada saat proses persalinan. Berita baiknya, terdapat vaksin yang bisa mencegah bayi tertular hepatitis B.
Infeksi hepatitis pada ibu hamil merupakan masalah yang serius. Infeksi hepatitis B ditularkan melalui cara horizontal yaitu melalui parenteral dengan terpapar darah, semen, sekresi vagina, saliva dan vertikal ibu ke janin.
Penularan secara vertikal dapat melalui beberapa cara yaitu melaui plasenta, kontaminasi darah selama melahirkan, transmisi fekal-oral pada masa puerperium atau permulaan partus, transmisi melalui laktasi
Pengaruh Penyakit Hepatitis B Pada Janin
Walaupun sebagian besar bayi-bayi menunjukkan tanda infeksi ikterus ringan, mereka cenderung menjadi carrier.
Status carrier ini dipertimbangkan akan menjadi sirosis hepatis dan karsinoma hepatoseluler. Infeksi kronik terjadi kira-kira 90% pada bayi yang terinfeksi, 60% pada anak < 5 tahun dan 2%-6% pada dewasa.
Diantaranya, seseorang dengan infeksi kronik HBV, risiko kematian dari sirosis dan karsinoma hepatoselular adalah 15% - 25%.
Infeksi HBV bukan merupakan agen teratogenik. Bagaimanapun, terdapat insidens berat lahir rendah yang lebih tinggi diantara bayi-bayi dengan ibu yang menderita infeksi akut selama hamil.
Pada satu penelitian hepatitis akut maternal (tipe B atau non-B) tidak mempengaruhi insidens dari malformasi kongenital, lahir mati, abortus, atau malnutrisi intrauterin. Tetapi, hepatitis akut menyebabkan peningkatan insidens prematuritas.
Infeksi hepatitis B kadang tidak disadari karena hanya menimbulkan demam ringan. Hanya 30% penderita yang mengalami kuning, mual, muntah, dan nyeri perut kanan atas.
Oleh karena itu, diagnosis ditegakkan dengan mengandalkan pemeriksaan darah yang spesifik untuk hepatitis B (HbsAg, anti-HBs) dan fungsi hati yaitu enzim SGOT dan SGPT.
Infeksi hepatitis B tidak menyebabkan kematian atau kecacatan pada janin. Namun infeksi saat kehamilan kerap berkaitan dengan berat lahir rendah dan lahir prematur.
Penularan ke bayi lebih besar terjadi jika ibu terinfeksi pada trimester ke tiga, yaitu 10% pada trimester pertama dan 60-90% pada trimester ketiga.
Melindungi Bayi Baru Lahir Dari Hepatitis B
Jika seorang ibu hamil positif saat dites hepatitis B, maka bayi baru lahirnya akan diberi dua suntikan vaksin di ruang bersalin (atau ruang operasi jika persalinan melalui proses bedah).
Dosis pertama untuk vaksin hepatitis B dan satu dosis imonuglobulin hepatitis B (HBIG). Jika kedua “obat” ini diberikan dengan tepat dalam 12 jam pertama kehidupan, maka terdapat 95% kemungkin terlindungi terhadap infeksi hepatitis B untuk seumur hidup.
Bayi akan memerlukan tambahan dosis vaksin hepatitis B pada usia satu dan enam bulan untuk melengkapi perlindungan (tergantung pada merk vaksin yang digunakan, jumlah vaksinasi yang dilakukan berbeda di tiap-tiap negara).
Jika seorang ibu hamil terinfeksi hepatitis B, maka sangat penting untuk memberi tahu tenaga kesehatan atau dokter untuk menyediakan kedua vaksin tersebut ketika sang ibu siap melahirkan. Jika ini terlewatkan, maka tidak ada kesempatan kedua.
Rekomendari untuk Ibu Hamil
Advisory Committee on Immunization Practice, mereka merekonmendasikan semua perempuan hamil diperiksa HbsAg pada masa kehamilan awal.
Setiap bayi yang lahir dari ibu dengan HbsAg positif atau ibu yang HbsAg-nya tidak diketahui, harus mendapat vaksin hepatitis B dan HBIG (hepatitis B Immunoglobulin).
Booster vaksin hepatitis B kemudian diberikan dua kali yaitu saat bayi berusia 1 bulan dan usia 3-6 bulan.
Setelah vaksin diberikan lengkap, maka pada usia 9-18 bulan, sebaiknya dilakukan pemeriksaan HbsAg dan anti-HBs.
Bila pemeriksaan anti-HBs dilakukan sebelum usia 9 bulan, bisa jadi anti-HBS positif akibat pemberian HBIG dan bukan antibodi yang dihasilkan oleh si bayi.



