Kolestasis adalah gangguan dari pembentukan, sekresi dan pengaliran dari empedu mulai dari intra seluler hepatosit, saluran empedu intra dan ekstra-seluler, ekstrahepatik. Hal ini dapat menyebabkan perubahan pada indikator biokimia, fisiologis, morfologis dan klinis.
Terjadinya kolestasis dapat disebabkan oleh kelainan hepatosit, kerusakan membran sel hati dan kelainan pada permukaan membran yang mengarah pada saluran empedu.
Penyebab kelainan diatas dapat disebabkan karena adanya kelainan anatomis, gangguan metabolik, hepatitis, genetik dan kelainan campuran.
Gambaran klinis kolestasis pada umumnya disebabkan karena adanya keadaan seperti:
- Akumulasi empedu dalam darah seperti ikterus, gatal-gatal dan hiperkolesterolemia.
- Kerusakan sel hepar sebagai akibat penumpukan komponen empedu. Secara anatomis dapat dilihat adanya penumpukan pigmen serta tanda peradangan dan nekrosis jaringan.
- Terganggunya aliran empedu memasuki usus berupa tinja berbentuk dempul, urobilin dan sterkobilinogen tinja dan urobilinogen urin yang menurun, malabsorbsi lemak dan vitamin yang larut didalamnya serta hipoprotrombinemia.
Sedangkan secara fungsional dapat dilihat adanya gangguan ekskresi berupa peningkatan fosfatase lindi dan glutamil transpeptidase. Kadar transaminase dan asam empedu serum pun meningkat.
Gejala dan tanda kolestasis adalah ikterus lebih dari 2 minggu dengan warna air kemih agak tua atau gelap, tinja berwarna pucat seperti dempul dan hepatomegali.
Dalam usaha menegakkan diagnosis kolestasis, maka perlu diperhatikan apakah kolestasis ini termasuk intra atau ekstrahepatik, apakah kelainan ini dapat dikoreksi dan cari etiologinya.
Diagnosis penyebab kolestasis dibuat berdasarkan pemeriksaan klinis, biokimia, hasil pencitraan, pemeriksaan tes aspirasi duodenum, biopsi hati perkutan, kolangiografi.
Prinsip pengobatan pada kolestasis adalah pengobatan operatif untuk kolestasis ekstrahepatik totalis. Transplantasi hati untuk pengobatan kolestasis intrahepatik.
Untuk pengobatan medikamentosa diberikan vitamin yang larut dalam lemak juga mengobati retensi zat toksin dengan pemberian obat koleretik seperti fenobarbital.
Penyebab Penyakit Kolestasis
Kolestasis terjadi jika aliran cairan empedu mengalami hambatan di titik mana saja, mulai dari tempat produksi di hati sampai ketika akan masuk ke usus halus.
Ada banyak kondisi yang bisa menjadi penyebab hambatan aliran cairan empedu, antara lain adalah:
- Obat-obatan tertentu.
- Penyakit hati, contohnya hepatitis, sirosis, atau kanker hati.
- Penyakit lain seperti penyempitan saluran empedu (atresia biliaris), batu empedu, kanker saluran empedu, kanker pankreas, peradangan pankreas (pankreatitis), dan lain-lain.
Jaundice
Jaundice atau sakit kuning adalah pewarnaan kuning pada kulit dan bagian putih mata (sklera), yang disebabkan oleh tingginya kadar pigmen empedu (bilirubin) di dalam darah.
Gejala Penyakit Jaundice
Pada jaundice, kulit dan bagian putih mata tampak kuning. Air kemih sering berwarna gelap, karena bilirubin dibuang melalui ginjal.
Gejala lainnya muncul tergantung kepada penyebabnya:
- Penyumbatan empedu bisa menyebabkan gejala kolestasis.
- Peradangan hati (hepatitis) bisa menyebabkan hilangnya nafsu makan, mual-muntah dan demam.
Penyebab & Faktor Risiko Jaundice
Pembuangan sel darah merah yang tua atau rusak dari aliran darah, terutama dilakukan oleh empedu. Selama proses ini berlangsung, hemoglobin (bagian dari sel darah merah yang mengangkut oksigen) dipecah menjadi bilirubin.
Bilirubin dibawa ke dalam hati dan dibuang ke dalam usus sebagai bagian dari empedu. Jika proses pembuangan ini terganggu, bilirubin yang berlebihan akan masuk ke dalam aliran darah, menyebabkan jaundice. Kadar bilirubin yang tinggi dalam darah, bisa terjadi pada:
- Penyumbatan saluran empedu di luar hati oleh batu empedu atau tumor.
- Pemecahan sejumlah besar sel darah merah, seperti yang kadang terjadi pada bayi baru lahir yang mengalami sakit kuning.
- Peradangan atau kelainan lainnya di hati, yang mengganggu proses pembuangannya ke dalam empedu.
Pada sindroma Gilbert, kadar bilirubin sedikit meningkat, tetapi biasanya tidak menyebabkan jaundice. Kelainan yang diturunkan ini, biasanya ditemukan pada pemeriksaan rutin tes fungsi hati; tidak memiliki gejala lainnya dan tidak menimbulkan masalah.
Diagnosis Jaundice
Temuilah dokter jika Anda mengalami gejala-gejala jaundice. Ada beberapa jenis tes yang mungkin ditawarkan oleh dokter guna mendeteksi penyebab jaundice, di antaranya tes urine, tes darah, dan tes fungsi hati.
Selain itu, ada juga tes pemindaian yang biasanya ditawarkan apabila dokter mencurigai jaundice disebabkan oleh kerusakan di dalam organ hati atau saluran empedu.
Pengobatan Jaundice
Pengobatan jaundice tergantung dari penyebab, jenis, dan tingkat keparahannya. Sebagai contoh, operasi mungkin akan ditawarkan oleh dokter jika jaundice disebabkan oleh saluran empedu yang tersumbat.
Contoh lainnya adalah transfusi darah, jika jaundice disebabkan anemia sel sabit. Jika jaundice disebabkan oleh kerusakan hati yang sudah sangat parah, kemungkinan dokter akan menawarkan transplantasi atau pencangkokan hati.



