Macam-Macam Komplikasi Penyakit Kolestasis!

Kolestasis adalah terganggunya aliran cairan empedu masuk duodenum dalam jumlah normal. Gangguan dapat terjadi mulai dari membrana basolateral dari hepatosit sampai tempat masuk saluran empedu kedalam duodenum.

Berikut beberapa penyebab penyakit kolestasis:

  1. Obat Obatan Tertentu

Penyebab yang bisa meningkatkan resiko terkena penyakit koletasis adalah efek samping dari obat obatan tertentu, untuk itu anda harus hati hati apabila hendak memilih obat untuk dikonsumsi.

Diatas merupakan beberapa penyebab yang bisa meningkatkan resiko seseorang menderita penyakit kolestasis.

  1. Penyakit hati

Penyakit hati merupakan salah satu penyebab dari terjadinya penyakit kolestasis, penyakit hati yang dimaksudkan meliputi: hepatitis, sirosis dan kanker hati.

Ketiga penyakit tersebut menjadi salah salah satu penyebab yang meningkatkan seseorang terkena penyakit kolestasis.

  1. Hepatitis

Hepatitis adalah peradangan pada hati karena toxin, seperti kimia atau obat ataupun agen penyebab infeksi.

Hepatitis yang berlangsung kurang dari 6 bulan disebut hepatitis akut, hepatitis yang berlangsung lebih dari 6 bulan disebut hepatitis kronis.

  1. Kanker Hati

Kanker hati adalah kanker yang menyerang hati, dan bukan akibat keganasan dari organ lain yang menyebar ke hati atau metastasis ke hati.

Tanda dan gejala klinis yang dapat ditemukan antara lain hepatomegali atau pembesaran hati, sakit perut, ikterus, atau gangguan hati lainnya.

  1. Sirosis

Sirosis adalah kerusakan hati jangka panjang atau kronis yang menyebabkan luka pada hati. Perkembangan penyakit yang perlahan lahan mengakibatkan jaringan sehat digantikan oleh jaringan rusak. Dan pada akhirnya, hati tidak menjalankan fungsinya dengan baik.

  1. Penyakit Lain

Penyabab selajutnya yang bisa menyebabkan terjadi kolestasis adalah penyakit lain yang bisa meningkatkan terjadi kelstasis diantaranya: penyempitan saluran empedu, batu empedu, kanker saluran empedu, kanker pankreas, peradangan pankreas, dan sebagainya.

Komplikasi Penyakit Kolestasis antara lain:

  1. Kolesistitis Akut

Faktor yang mempengaruhi timbulnya serangan kolesistitis akut adalah stasis cairan empedu, infeksi kuman, dan iskemia dinding kandung empedu.

Penyebab utama kolesistitis akut adalah batu kandung empedu (90%) yang terletak di duktus sistikus yang menyebabkan stasis cairan empedu, sedangkan sebagian kecil kasus timbul tanpa adanya batu empedu (kolesistitis akut akalkulus).

Bagaimana stasis di duktus sistikus dapat menyebabkan kolesistitis akut, masih belum jelas. Diperkirakan banyak faktor yang berpengaruh.

Seperti kepekaan cairan empedu, kolesterol, prostaglandin yang merusak lapisan mukosa dinding kandung empedu diikuti oleh reaksi inflamasi dan supurasi.

Koleisistitis akut akalkulus dapat timbul pada pasien yang dirawat cukup lama dan mendapat nutrisi secara parenteral, pada sumbatan karena keganasan kandung empedu.

Batu di saluran empedu merupakan salah satu komplikasi penyakit lain seperti demam tifoid dan diabetes mellitus.

  1. Kolesistitis Kronik

Kolesistitis kronik lebih sering dijumpai di klinis dan lebih sering timbul perlahan-lahan, penderita yang memiliki resiko tinggi terkena komplikasi kronik pada setiap bentuk kolestasis neonates.

Penanganan Penyakit Kolestasis

  1. Kausatif

Pada atresia biliaris dilakukan prosedur Kassai dengan angka keberhasilan tinggi apabila dilakukan sebelum usia 8 minggu.

  1. Terapi Suportif

Apabila tidak ada terapi spesifik harus dilakukan terapi suportif yang bertujuan untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan seoptimal mungkin serta meminimalkan komplikasi akibat kolestasis kronis.

  1. Medikamentosa

- Stimulasi asam empedu: asam ursodeoksikolat 10-30 mg/kg BB dibagi 2-3 dosis.

- Nutrisi diberikan untuk menunjang pertumbuhan optimal (kebutuhan kalori.

Umumnya dapat mencapai 130-150% kebutuhan bayi normal) dan mengandung lemak rantai sedang (medium chain triglyseride).

- Vitamin yang larut dalam lemak: A (5.000-25.000 IU/hari, D (calcitriol 0,05-0,2. µg/kgBB/hari), E (25-200 IU/kgBB/hari), K1 (2,5-5 mg/hari diberikan 2-7x/minggu). Akan lebih baik apabila ada sediaan vitamin tersebut yang larut dalam air (di Indonesia belum ada).

- Mineral dan trace element Ca (25-100 mg/kgBB/hari, P (25-50 mg/kgBB/hari), Mn (1-2 mEq/kgBB/hari oral, Zn (1 mg/kgBB/hari oral), Se (1-2 µq/kgBB/hari oral), Fe 5-6 mg/kgBB/hari oral.

- Terapi komplikasi lain misalnya untuk hiperlipidemia/xantelasma diberikan obat HMG-coA reductase inhibitor seperti kolestipol, simvastatin.

Terapi untuk mengatasi pruritus:

- Antihistamin: difenhidramin 5-10 mg/kgBB/hari, hidroksisin 2-5 mg/kgBB/hari.

- Asam ursodeoksikolat.

- Rifampisin 10 mg/kgBB/hari.

- Kolestiramin 0,25-0,5 g/kgBB/hari.

  1. Pemantauan

Keberhasilan terapi dilihat dari:

- Progresivitas secara klinis seperti keadaan ikterus (berkurang, tetap, makin kuning), besarnya hati, limpa, asites, vena kolateral.

- Pemeriksaan laboratorium seperti kadar bilirubin direk dan indirek, ALT, AST, ∂GT, albumin dan uji koagulasi dilakukan setidaknya setiap bulan.

- Pencitraan kadang-kadang diperlukan untuk memantau adanya perbaikan atau perburukan.

  1. Tumbuh kembang

Pasien dengan kolestasis perlu dipantau pertumbuhannya dengan membuat kurva pertumbuhan berat badan dan tinggi badan bayi/anak.

- Pertumbuhan pasien dengan kolestasis intrahepatik menunjukkan perlambatan sejak awal.

- Pasien dengan kolestasis ekstrahepatik umumnya akan tumbuh dengan baik pada awalnya, tetapi kemudian akan mengalami gangguan pertumbuhan sesuai dengan progresivitas penyakitnya.

Post Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *