Cara Pencegahan Penyakit Kolestasis Dan Jaundice!

Kolestasis adalah kegagalan aliran cairan empedu masuk duodenum dalam jumlah normal. Gangguan dapat terjadi mulai dari membrana-basolateral dari hepatosit sampai tempat masuk saluran empedu ke dalam duodenum.

Dari segi klinis didefinisikan sebagai akumulasi zat-zat yang diekskresi kedalam empedu seperti bilirubin, asam empedu, dan kolesterol didalam darah dan jaringan tubuh.

Secara patologi-anatomi kolestasis adalah terdapatnya timbunan trombus empedu pada sel hati dan sistem bilier.

Gejala Penyakit Kolestasis

Terhambatnya aliran empedu akan menyebabkan cairan empedu, yang terdiri dari terdiri dari garam empedu, pigmen empedu (bilirubin) serta lemak, menumpuk dalam darah.

Akibatnya timbul berbagai macam gejala. Kadar pigmen empedu (bilirubin) yang tinggi di dalam darah akan menyebabkan gejala kuning pada kulit atau mata.

Selain itu, pigmen tersebut akan membuat warna urin menjadi seperti teh pekat dan membuat kulit gatal-gatal.

Di lain pihak, karena cairan empedu tidak masuk ke usus, maka warna tinja menjadi lebih pucat dan tinja banyak mengandung lemak.

Keadaan ini disebut steatorrhea ditandai dengan bau tinja yang sangat busuk. Penyerapan vitamin D dan kalsium ikut terganggu.

Akibatnya tulang menjadi rapuh. Gangguan penyerapan vitamin K dapat menyebabkan kecenderungan perdarahan.

Selain gejala utama di atas, seringkali ditemukan gejala penyerta seperti mual, muntah, hilang napsu makan, nyeri perut, dan demam.

Pengobatan Penyakit Kolestatis

Pengobatan utama kolestasis tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Jika karena batu empedu, maka batu tersebut diangkat melalui operasi.

Jika karena saluran sempit atau buntu, dilakukan pembukaan saluran, juga dengan operasi. Jika karena obat-obatan tertentu, maka penggunaan obat-obatan tersebut harus dihentikan.

Jika karena hati mengalami kerusakan hebat sehingga tidak berfungsi lagi, dapat dipertimbangkan operasi pencangkokan hati. Keberhasilan pengobatan tergantung pada sulit tidaknya penyebab kolestasis diobati atau diatasi.

Pengobatan pendukung kolestasis antara lain adalah pemberian kolestiramin. Obat ini berfungsi untuk mengurangi rasa gatal.

Kadang-kadang diberikan juga suplemen vitamin D, K, atau kalsium. Selain itu, untuk mengurangi lemak di dalam usus, penderita tidak boleh mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung lemak.

Cara Pencegahan Penyakit Kolestasis

Cara pencegahan kolestasis antara lain:

- Aturlah cara pola makan.

- Hindari merokok.

- Jangan mengkonsumsi obat-obatan secara berlebihan.

- Olahraga dengan teratur.

Jaundice

Jaundice adalah suatu kondisi dimana kulit, mukosa, dan bagian putih mata (sklera) berubah warna menjadi kuning.

Hal ini disebabkan karena peningkatan kadar bilirubin dalam darah. Bilirubin adalah hasil pemecahan sel darah merah yang sudah tua.

Normalnya, hati akan merombak bilirubin dan membuangnya ke dalam usus sehingga dapat dikeluarkan bersamaan dengan tinja.

Apabila terdapat gangguan dalam proses ini, terjadilah kuning. Kuning bukan merupakan penyakit, melainkan tanda dari suatu penyakit yang mendasarinya.

Gejala yang muncul bersama jaundice di antaranya adalah:

- Air kemih berwarna gelap.

- Kulit gatal.

- Kulit, mukosa, dan bagian putih mata (sklera) berubah warna menjadi kuning.

- Tinja berwarna putih.

- Kuning yang tidak normal pada bayi, juga dapat menimbulkan gejala seperti: sulit minum ASI, lemas, suara tangis melengking, dan kejang.

- Gejala lain dari penyakit yang mendasarinya, misalnya mual dan muntah, nyeri perut, demam, badan lemah, nafsu makan menurun, nyeri kepala, kaki bengkak, perut membesar, dan sebagainya.

Pengobatan Jaundice

Pengobatan jaundice tergantung dari penyebab, jenis, dan tingkat keparahannya. Sebagai contoh, operasi mungkin akan ditawarkan oleh dokter jika jaundice disebabkan oleh saluran empedu yang tersumbat.

Contoh lainnya adalah transfusi darah, jika jaundice disebabkan anemia sel sabit. Jika jaundice disebabkan oleh kerusakan hati yang sudah sangat parah, kemungkinan dokter akan menawarkan transplantasi atau pencangkokan hati.

Pencegahan Jaundice

Karena ada ragam masalah kesehatan yang bisa menyebabkan jaundice, maka tidak semua kasus dapat dicegah.

Meski begitu, untuk meminimalkan risiko terkena penyakit tersebut, ada beberapa cara yang bisa dilakukan.

Di antaranya dengan menjaga berat badan tetap pada batas yang sehat, membatasi konsumsi minuman beralkohol, melakukan vaksinasi hepatitis A dan B, serta tidak menyuntikkan narkoba ke tubuh agar terhindar dari hepatitis C.

Post Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *